“Aku bersyukur dilahirkan di Indonesia, dimana senyum masih menjadi karakter, budaya masih apik terjaga, dan optimisme masih menyulut semangat. Aku berharap, anak-anakku kelak harus lebih bangga dariku dalam memandang dan memperjuangkan Indonesianya. Jaya Selalu Negeriku Indonesia, Jayalah Selama-lamanya”

Kebijakan Luar Negeri Korea Utara Dalam Pengembangan Senjata Nuklir


Oleh: Galih Wisnu Aji - Mahasiswa HI UMM


I. Latar Belakang
Korea Utara atau Democratic People’s Republic of Korea adalah suatu negara yang terletak di Asia Timur Laut dan berbatasan langsung dengan People’s Republic of China di sebelah utara dan Republic of Korea atau lebih dikenal dengan Korea Selatan di bagian selatan. Pada masa Japanese imperialis, Korea Utara dan Korea Selatan merupakan negara yang bersatu bernama Korea, namun setelah penjajahan Jepang berakhir, Uni Soviet dan Amerika Serikat yang memenangkan perang melawan Jepang membagi Korea menjadi 2, Utara dan Selatan, dengan 2 ideologi yang berbeda. Korea Utara mengikuti Uni Soviet yang mengalahkan Jepang di sebelah utara garis 38° lintang utara dengan ideologi sosialis komunisnya, sementara Amerika Serikat memenangkan perang melawan Jepang dan mengambil wilayah Korea di sebelah selatan garis lintang 38° serta membawa ideologi ekonomi kapitalisnya.
Korea Utara sendiri lahir pada 9 September 1948, menyusul saudaranya di selatan yang telah mandiri sejak 15 Agustus 1948.[1] Pada tahun 1950, Korea Utara sempat menginginkan unifikasi lagi di Korea dan menyerang Korea Selatan, perang ini disebut sebagai Perang Korea yang berlangsung hingga 1953. Hingga saat ini, Perang Korea tersebut belum berakhir, karena mereka hanya mencapai negative peace berupa gencatan senjata tanpa batas waktu. Korea Utara kemudian tumbuh menjadi negara komunis di bawah payung Uni Soviet pada Perang Dingin. Hingga akhirnya Uni Soviet pecah pada tahun 1991, hal ini membuat Korea Utara harus melindungi negaranya sendiri. Pyongyang mengukuhkan diri sebagai negara pengembang nuklir demi menjaga wilayahnya agar musuh-musuh mereka seperti Korea Selatan hingga Amerika Serikat tidak menganggap sebelah mata terhadap mereka.

Sejarah nuklir Korea Utara sendiri mulai terbentuk ketika sang founding father, Kim Il-sung, yang merupakan gerilyawan anti-Jepang pada masa pendudukan Jepang, menjadi saksi mata bom atom Amerika Serikat yang meluluh lantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, sekaligus membuat Jepang menyerah terhadap Amerika Serikat dan menandai berakhirnya World War II dengan kemenangan tentara sekutu.[2] Setelah Korea Utara merdeka dan setelah berakhirnya Perang Korea, barulah Kim membangun program nuklir dengan bantuan Uni Soviet. Mereka saling bertukar ilmuwan nuklir dengan Uni Soviet. Namun pada akhir 1960an dan awal 1970an, Uni Soviet dan China, yang juga merupakan sekutu Korea Utara dalam pengembangan nuklir mengalami perpecahan, Pyongyang menghendaki adanya self-determination dalam membangun program nuklirnya tanpa bantuan siapapun. Mereka berniat membangun program tersebut demi menjaga negaranya dari serangan pihak lain. Apalagi dengan adanya Korea Selatan yang mulai muncul dengan perekonomian yang meroket tinggi meninggalkan Korea Utara serta bantuan militer yang diberikan oleh Amerika Serikat terhadap Seoul, sehingga membuat Korea Utara terancam oleh keberadaan mereka di selatan. Karena inferioritas perekonomian dan industrialisasi yang tertinggal jauh oleh Korea Selatan, hal ini membuat Kim berusaha semakin memperbesar arsenalnya dengan senjata nuklir. Terlebih lagi ketika rezim Mao Zedong di China berakhir, China mulai meninggalkan ekonomi sosialis dan blok komunis mulai hancur secara perlahan, Kim berusaha untuk membuat bom untuk kepentingan self-defense.[3]

II. Landasan Konsep
Decision Making Process
Secara teoritis, ada tiga elemen utama yang menentukan politik luar negeri suatu negara: sistem internasional, sistem politik domestik, dan aktor pengambil keputusan politik luar negeri. Ketiga elemen tersebut merupakan input yang menentukan output (kebijakan) dan outcome (implementasi) politik luar negeri.[4] Foreign Policy Decision Making merupakan pilihan yang dibuat oleh individu, kelompok, dan koalisi untuk negara mereka dalam menghadapi tantangan dunia internasional. Foreign Policy Decision tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: Decision Environment, Psycological Factors, International Factors, dan Domestic Factors.[5]
Dalam kasus kebijakan nuklir Korea Utara, Foreign Policy Decision mereka terbentuk karena adanya dunia internasional, dalam konteks ini adalah negara-negara di regional Asia Timur (dimana terdapat negara-negara berkekuatan ekonomi yang jauh lebih kuat dibanding Korea Utara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan China) dan Amerika Serikat sebagai pihak luar, berusaha mengancam Korea Utara dengan Soft Power yang dimiliki oleh tetangganya ataupun Hard Power yang diperlihatkan Amerika Serikat dengan invasi-invasi militer sebagai bentuk intervensi kemanusiaan. Kebijakan sistem internasional atau kebijakan negara lain tersebut membuat Korea Utara tersudut dan memilih melanjutkan program nuklirnya sebagai bentuk Foreign Policy mereka. Program nuklir tersebut digunakan oleh Korea Utara untuk men-deter negara-negara yang menjadi ancaman tersebut. Kebijakan nuklir itu sendiri merupakan pilihan dari rational actor, dimana yang berperan sebagai pembuat kebijakan adalah rezim diktator Korea Utara dibawah kekuasaan dinasti Kim. Mulai dari Kim Il-sung, Kim Jong-il, hingga Kim Il-sung, kebijakan Korea Utara tetap sama dengan cara mengembangkan nuklir untuk melakukan self-defense bagi negaranya.
Pembuatan kebijakan luar negeri Korea Utara juga tidak dapat dilepaskan dari International factors dan domestic factors sebagai pemicu dinasti Kim membuat kebijakan luar negeri. Dari sisi internasional sudah dijelaskan bahwa adanya kekuatan-kekuatan ekonomi di Asia Timur dan sikap Amerika Serikat terhadap Pyongyang merupakan faktor bagi rational actor membuat kebijakan untuk Korea Utara. Sementara faktor domestik adalah ekonomi Korea Utara yang sudah terkuras habis dengan pengembangan teknologi nuklir yang membuat rakyatnya kelaparan. Nuklir yang dibuat Korea Utara adalah untuk menakut-nakuti atau melakukan deterrence terhadap negara-negara Asia Timur. Korea Utara sering melakukan uji roket salah satunya adalah agar negara-negara tetangganya memberika bayaran berupa bantuan kepada Korea Utara sebagai cara agar Korea Utara tidak melakukan ancaman atau melakukan uji nuklir di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan negara mereka masing-masing.
Offense-Defensive  Theory
Dalam hubungan internasional antar negara-negara di dunia, terdapat sistem anarki yang memunculkan situasi dimana satu negara meningkatkan postur militernya, hal itu membuat keamanan negara lain akan menurun. Negara yang merasa terancam oleh kekuatan negara lain yang kekuatannya semakin meningkat akan mengalami sebuah security dilemma dimana negara yang terancam tersebut harus melakukan pilihan antara offensive (dengan melakukan ekspansi militer sebelum negara yang memberikan ancaman itu tiba dan menyerang negaranya) atau defensive (yakni memilih untuk bertahan dan memperkuat militernya atau senjata-senjatanya agar bila suatu saat negara lain menyerang, mereka mampu menahan serangannya). Robert Jarvis dalam esainya yang berjudul “Cooperation Under the Security Dilemma” menjelaskan bahwa:
“…, most statesmen held the reasonable position that weapons that threatened civilians is offensive. But when neither side can protect its civilians, a counter-city posture is defensive because state can credibly threaten to retaliate only is response to an attack on itself or its closest allies.”[6]
Dalam studi kasus Korea Utara dan senjata nuklir yang mereka modernisasi terus-menerus setiap waktu, menjelaskan bahwa Korea Utara bersikap defensive demi menjaga keamanan negara dan rakyatnya dari ekspansi militer negara lain. Status ‘axis of evil’ yang diberikan oleh Amerika Serikat membuat mereka sadar bahwa mereka adalah musuh besar bagi negeri Paman Sam. Pyongyang berusaha melindungi negara dari ancaman Amerika Serikat dengan memperbesar kekuatan nuklir. Mereka juga berusaha membuat negara-negara tetangga yang berkemampuan ekonomi lebih besar agar lebih segan terhadap mereka dengan senjata-senjata nuklir yang siap diluncurkan jika saja mereka mengusik Korea Utara.
Kebijakan untuk bertahan ini akan terus dipertahankan oleh Korea Utara agar mereka dapat tetap bertahan hidup dalam hubungan internasional. Mereka akan tetap dalam kebijakan self defense mereka dengan membangun program nuklirnya terus menerus, hingga dunia internasional yang anarki menjadi lebih baik, atau mungkin hingga Amerika Serikat mengubah persepsi mereka bahwa Korea Utara adalah musuhnya yang perlu dilumpuhkan, serta hingga negeri-negeri di sekitarnya menyegani mereka dan bukan malah menganggap mereka negara kecil yang miskin, yang tidak mampu menghidupi rakyatnya.
Deterrence
Realis melihat bahwa sistem internasional adalah anarki, untuk survive di dunia yang sangat berbahaya dengan tidak adanya pemerintah yang baik, sehingga harus ada pemimpin yang mampu membuat keamanan untuk negaranya. Untuk bertahan di sistem internasional, negara membangun pertahanan guna mengamankan negaranya agar tidak ada negara yang mungkin akan menginvasi.[7] Deterrence bertujuan untuk menunjukkan pada musuh untuk tidak melakukan suatu aksi. Kita yang menentukan, berusaha menunjukkan pada musuh konsekuensi jika mereka bertindak, dan menunggu (suksesnya deterrence dapat dihitung dengan apakah sesuatu terjadi); jika musuh “melewati batas”  yang telah kita gambarkan, kita akan memberikan hukuman atas aksi yang mereka lakukan. Deterrence dianggap sukses bila tidak ada satupun musuh yang memasuki batas suatu negara. Deterrence is conservative: it seeks to protect the status quo. Deterrence sama seperti bertahan atau bisa dibilang menunggu, musuh harus bergerak menjauh sebelum ada reaksi dari negara yang mempertahankan negaranya.[8]
Korea Utara membangun program nuklir untuk melakukan deterrence kepada lawan-lawannya, baik yang berada di kawasan Asia Timur ataupun Amerika Serikat. Senjata nuklir yang dibuat oleh Pyongyang adalah sebuah sarana pertahanan yang digunakan untuk mengamankan negaranya dan menakut-nakuti Amerika Serikat serta negara-negara dengan perekonomian maju di sekitarnya. Jika negara-negara tersebut mengusik Korea Utara, maka senjata nuklir yang dikembangkan oleh Korea Utara akan meluncur ke negara mereka masing-masing.

III. Pembahasan
Korea Utara adalah negara yang terisolasi, miskin, dan rakyatnya mengalami kelaparan. Sebuah image yang telah melekat pada Korea Utara dalam beberapa dekade terakhir, mengingat bahwa mereka adalah negara yang menutup diri dari hubungan internasional dengan negara lain, kecuali dengan negara-negara yang merupakan teman dekatnya seperti Cina. Namun, disamping image sebagai negara miskin, Korea Utara merupakan salah satu negara yang mempunyai kekuatan militer terbesar di dunia. Senjata militer yang mereka buat juga bukan untuk keperluan defensif, mereka telah men-setting senjata-senjata mereka untuk melakukan serangan ke beberapa titik pangkalan musuh. Pasukan militer Korea Utara diketahui telah menduduki hingga 100 km di sebelah utara DMZ (the demilitarized zone) dan semakin meningkat jumlah pasukannya 2 dekade terakhir.[9]
Angkatan bersenjata Korea Utara sangat kuat dengan senjata-senjata berat yang dikendalikan oleh mereka. Pasukannya yang aktif mencapai 1,1 juta orang dan cadangan yang mencapai 6 juta orang dan dari semua pasukan tersebut, 90% adalah angkatan darat. Mereka dilengkapi dengan 3.500 buah battle tanks, 3.000 light tanks, dan 12.000 artileri, dan masih banyak lagi angkatan bersenjata mereka, mulai dari angkatan udara hingga senjata-senjata yang berada di bawah tanah serta pasukan khusus mereka yang jumlahnya sekitar 100 ribu pasukan. Dana untuk militer juga sangat besar, 25% ( US$4 billion) dari GDP Korea Utara keluar untuk keperluan ini.[10] Fakta-fakta tentang angkatan militer Korea Utara menunjukkan bahwa negara ini tidak bisa dipandang remeh, terlebih oleh negara seperti Amerika Serikat yang menyebut mereka sebagai salah satu Axis of Evil. Kekuatan Pyongyang pun tidak hanya itu, program nuklir yang semakin hari semakin bertambah besar menjadi kekuatan utama Korea Utara.
Nuklir telah menjadi bahan perbincangan sehari-hari seluruh umat di muka bumi jika berbicara tentang negara yang saat ini dipimpin oleh Kim Jong-un (cucu pemimpin abadi Korea Utara, Kim Il-sung).  Mereka mempunyai senjata nuklir yang sangat besar dan sempat dilakukan uji coba senjata roket beberapa waktu lalu, meskipun sempat gagal, mereka merencanakan uji coba bom nuklir selanjutnya.[11] Uji coba tersebut bertujuan untuk membangun gambaran bahwa Korea Utara mempunyai senjata yang suatu saat bisa diluncurkan untuk melawan musuh. Meskipun pada dasarnya, kebijakan self defense adalah satu hal yang diinginkan Korea Utara.
Uranium sebagai bahan dasar pembuatan nuklir akan semakin diperkaya, mengingat bahwa Korea Utara tidak ingin menghentikan programnya, mereka hanya berharap dunia mengerti kalau suatu saat nanti Korea bersatu, maka Korea akan makmur dengan adanya pembangkit tenaga nuklir. Pyongyang bersikeras untuk meneruskan proliferasi nuklirnya karena diharapkan dengan adanya nuklir, dunia akan melihat Korea Utara sebagai negara yang mampu bersaing di kancah internasional. Memang Korea Utara hanyalah negara kecil, namun dengan adanya nuklir, mereka akan semakin kuat dan akan mampu membuat dunia menoleh kepada mereka karena kekuatan mereka yang membuat takut masyarakat dunia.
Beberapa pihak memang telah meminta negeri Kim Il-sung ini untuk menghentikan programnya, mulai dari Amerika Serikat yang senantiasa bertindak sebagai polisi dunia, mereka menyatakan bahwa Korea Utara tidak seharusnya membuat nuklir karena malah akan membahayakan dunia. Seperti pada April lalu ketika mereka ingin meluncurkan roket ke luar angkasa, masyarakat di seluruh dunia dibuat ketakutan dengan peluncuran roket yang meskipun akhirnya roket tersebut hanya meledak di Laut Kuning. Pemerintah Amerika Serikat masih menunggu kepastian dari Korea Utara untuk serius melucuti senjata nuklir negaranya. Karena bila hal ini terus dilakukan oleh Korea Utara, maka ditakutkan oleh pihak Amerika Serikat akan terjadi perang nuklir diantara mereka. Washington telah mengingatkan Pyongyang untuk bekerjasama dengan mereka dalam melucuti nuklir agar dapat meyakinkan dunia internasional bahwa tidak akan ada pengayaan uranium untuk membuat bom nuklir yang mengancam kedamaian di dunia.[12]
Korea Selatan sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Korea Utara, serta sebagai negara yang masih belum mampu diajak berdamai juga turut mengecam mereka. Seoul menertawakan Korea Utara yang menghabiskan dana besar hanya untuk melakukan uji nuklir. Diketahui bahwa dana yang dikeluarkan dalam melakukan uji coba senjata itu mencapai angka US$3,6 Billion atau sekitar 34 triliun rupiah. Dana itu dikeluarkan selama 20 tahun pengembangan senjata nuklir, termasuk riset pengayaan uranium dan hulu ledak. Korea Selatan menganggap bahwa Korea Utara hanya menghabiskan uang saja, padahal masih banyak rakyatnya yang kelaparan. Menurut Direktur Jenderal urusan Perdamaian di Semenanjung Korea, Kim So-gwon, usai diskusi “2012 Forum on Peace and Security on The Korean Peninsula: Challenges and Ways Forward di Jakarta, 28 Mei 2012, dana sebesar itu mampu memberi makan rakyat selama delapan tahun.[13]
Tapi Korea Utara tetaplah Korea Utara, yang tidak mau berhenti dalam melakukan pengayaan uranium demi kekuatan senjata pemusnah massalnya. Mereka menganggap ucapan-ucapan dunia internasional tentang nuklir yang mereka programkan hanyalah bualan belaka. Korea Utara tidak peduli meskipun rakyatnya berada dibawah garis kemiskinan. Penderitaan rakyat tidak akan membuat Korea Utara menghentikan risetnya mengenai nuklirnya. Mereka mempunyai beberapa kepentingan yang membuat mereka tidak mau menyerah dalam melanjutkan program nuklirnya. Mereka akan terus melakukan modernisasi program nuklir dengan alasan agar mereka bisa keluar dari bayang-bayang Amerika Serikat dan negeri Paman Sam bisa mengubah kebijakan luar negerinya terhadap Pyongyang.
Dalam memorandum Kemenlu Korea Utara, disampaikan bahwa negara ini tengah mengembangkan persenjataan nuklir sebagai upaya pertahanan diri dari tudingan Washington. Selama ini, Amerika Serikat tiada hentinya menyuarakan bahaya nuklir Korea Utara terhadap negera-negara Barat dan aliansinya.
“Senjata nuklir kami akan terus dimodernisasi dan dikembangkan hingga jauh di luar bayangan Amerika Serikat,” demikian pernyataan Korea Utara seperti dilansir AFP, Jum’at, 31 Agustus 2012.[14] Mereka tidak akan mengubah pendiriannya untuk tetap melindungi diri mereka sebagai konsep kebijakan luar negeri mereka dan akan terus mengupayakan pengayaan uranium hingga Amerika Serikat mau mengubah kebijakan luar negerinya tentang negara komunis Korea Utara yang menganggap bahwa Korea Utara adalah musuh mereka.
Pyongyang terlihat sangat takut dengan momok Amerika Serikat yang mengancam mereka. Mereka takut kalau nantinya akan nada invasi militer Amerika Serikat yang sudah mereka lihat di Afghanistan dan Irak, dua negara yang pernah dilabeli ‘evil’ oleh Amerika Serikat, julukan yang saat ini melekat pada mereka. Dengan adanya senjata nuklir, Korea Utara dapat meminimalisir agresi militer Amerika Serikat ke bagian utara semenanjung Korea. Mereka mengusahakan agar Korea Utara terlepas dari konfrontasi militer dengan Amerika Serikat. Pyongyang juga ingin survive dalam percaturan dunia internasional.
Selain untuk lepas dari bayangan Amerika Serikat, self defense juga diterapkan Korea Utara untuk melakukan arms race dengan negara-negara tetangga dalam East Asian Regional yang perekonomiannya jauh meninggalkan mereka. Konsiderasi mereka dengan semakin menjulang tingginya perekonomian negara-negara seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan adalah kekuatan nuklir mereka diharapkan mampu bersaing dengan negara-negara dengan ekonominya yang sangat maju dan Korea Utara sadar bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan ekonomi yang luar biasa seperti negara-negara di wilayah Northeast Asia lainnya. Korea Utara pun sangat berharap bantuan dari negara-negara tetangganya yang pasti sangat terancam dengan adanya nuklir Korea Utara, sehingga mereka akan bersedia membayar Korea Utara sebagai cara agar Korea Utara tidak melakukan uji nuklir di wilayah Asia Timur.

IV. Kesimpulan
Korea Utara menjadi negara yang disegani berkat nuklir yang mereka buat. Nuklir menjadi satu kekuatan utama Pyongyang untuk dapat berkompetisi di dunia internasional. Sebagai negara kecil dan sebagian besar penduduknya berada dibawah garis kemiskinan, negara ini terlihat tidak mempunyai kapabilitas yang mumpuni, namun dengan adanya nuklir yang sewaktu-waktu bisa mereka ledakkan, dunia menjadi lebih segan terhadap mereka. Meski banyaknya kecaman-kecaman dari dunia internasional, mereka tetap menjalankan misi meningkatkan kekuatan nuklir mereka sendiri.
Bagi Korea Utara, nuklir saat juga telah menjadi kekuatan tersendiri bagi Korea Utara dalam menghadapi negara-negara big power macam Jepang, Korea Utara, hingga Amerika Serikat. Mereka mampu berkompetisi dengan negara-negara dengan angka kemakmuran yang sangat tinggi dengan nuklir yang mereka miliki. Senjata pemusnah massal ini juga merupakan senjata untuk self defense mereka agar tidak terkena serangan militer dari Amerika Serikat yang menganggap negara ini sebagai salah satu axis of evil. Kebijakan luar negeri mereka dengan menumpuk uranium sebagai bahan dasar pembuaatan nuklir akan tetap dilangsungkan, demi kepentingan negara dan rakyatnya agar dapat survive dalam kompetisi dengan negara-negara lain di dunia.


[1] Ilpyong J. Kim. 2003. Historical Dictionary of North Korea. Scarecrow Press, Inc. Oxford.
[2] Linus Hagstrom dan Marie Soderberg. 2006. North Korea Policy, Japan and Great Powers. Routledge. New York. Page 36
[3] Ibid
[4] Erik Faripasha S. Faktor Eksternal Dan Faktor Domestik Dalam Pembuatan Kebijakan Luar Negeri Indonesia Mengenai Lingkungan Hidup Era Susilo Bambang Yudhoyono
[5] Alex Mintz dan Karl DeRouen Jr. 2010. Understanding Foreign Policy Decision Making. Cambridge University Press. Cambridge. Hal 3-4
[6] Robert Jarvis. 2008. Cooperation Under the Security Dilemma. The Johns Hopkins University Press. Hal  41
[7] Op. Cite Alex Mintz dan Karl DeRouen Jr. 2010. Understanding... Hal 121-122
[8] Branislav L. Slantchev. 2005. Introduction to International Relations Lecture 8: Deterrence and Compellence. University of California. San Diego hal 3
[9] Michael O'Hanlon dan Mike M. Mochizuki. 2003. Crisis on the Korean Peninsula, How to Deal with A Nuclear North Korea. A Brookings Institution Book. New York.
[10] Ibid
[11] Roket Gagal, Korut Siapkan Nuklir dalam http://internasional.kompas.com/read/2012/04/14/09333619/Roket.Gagal.Korut.Siapkan.Nuklir diakses pada tanggal 23 Oktober 2012
[12] AS Minta Korut Lucuti Nuklirnya dalam http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/10/03/mbauo2-as-minta-korut-lucuti-nuklirnya diakses pada tanggal 23 Oktober 2012.
[13] Dana Nuklir Korut Bisa 8 Tahun Hidupi Rakyat dalam http://dunia.news.viva.co.id/news/read/317877-dana-nuklir-korut-setara-makan-rakyat-8-tahun diakses pada tanggal 24 Oktober 2012
[14] Korut Bersumpah Terus Kembangkan Senjata Nuklir Hingga AS Melunak dalam http://news.detik.com/read/2012/08/31/182842/2004787/1148/korut-bersumpah-terus-kembangkan-senjata-nuklir-hingga-as-melunak diakses pada tanggal 24 Oktober 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar