“Aku bersyukur dilahirkan di Indonesia, dimana senyum masih menjadi karakter, budaya masih apik terjaga, dan optimisme masih menyulut semangat. Aku berharap, anak-anakku kelak harus lebih bangga dariku dalam memandang dan memperjuangkan Indonesianya. Jaya Selalu Negeriku Indonesia, Jayalah Selama-lamanya”

Jangan Paksa Anak Mendapatkan ‘Nilai Baik’ Pada Rapor Sekolah



      Jangan menilai kemampuan anak dari nilai yang dia dapatkan, dan jangan paksa anak kita untuk mendapatkan nilai baik. Nilai yang ada pada buku rapor bukanlah nilai yang sesungguhnya, karena nilai tersebut tidak dapat dijadikan patokan tentang bagaimana kemampuan asli dari anak tersebut. Einsteinpun mengatakan, ‘jangan mengukur kura-kura dari kemampuannya memanjat pohon’

    Setiap manusia memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda di dalam dirinya. Bisa jadi seseorang lemah dalam hal eksak dan kuat dalam hal lainnya, dan bisa jadi sebaliknya. Maka jika menilai anak dari nilai yang dia dapatkan di dalam buku rapor, secara tidak langsung kita menginginkan anak tersebut menjadi seperti apa yang orang tua inginkan, bukan tentang apa yang anak tersebut inginkan.Tidak orang tua sadari bahwa anak tersebut akan tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan. Takut dan malas untuk pergi ke sekolah, karena melihat sekolah menjadi sebuah institusi pendidikan yang mengerikan.

    Orientasi pendidikanpun akan berubah, pendidikan yang seharusnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan membentuk moral etika manusia justru melenceng jauh. Belajar tidak lagi untuk ilmu pengetahuan, tapi belajar untuk mendapatkan nilai baik, belajar utuk mendapatkan pekerjaan. Tujuan tersebut tentu sudah tidak lagi sejalan dengan hakikat tujuan pendidikan. 

Prilaku Yang Menjadikan Seseorang Kaya? Atau Kekayaan Yang Membentuk Prilaku Seseorang?



       Sering kali saya berdiskusi dengan bapak saya, dan salah satu tema yang menarik adalah pertanyaan sekaligus pernyataan dari bapak saya, “prilaku yang menjadikan orang itu kaya atau kekayaan itu yang membentuk prilakunya?”. Pernyataan tersebut dilator belakangi oleh pengalaman bapak saya saat kuliah D3 di salah satu sekolah tinggi yang ada di Kota Bekasi saat itu. Konon bapak saya memiliki beberapa dosen yang dapat dikatakan ‘ringan tangan’, namun bukan ringan tangan dalam artian negatif suka memukul atau kasar. Ringan tangan yang dimaksud di sini adalah tidak rumit, tidak njelimet, simpel dan menyenangkan. Kalau bapak saya bilang, ‘orangnya enakan’, tidak sulit memberikan nilai baik kepada mahasiswanya kecuali mahasiswa tersebut memang tidak bisa dan tidak pernah melakukan apa-apa (baik tugas maupun ujian) dan tidak pernah menyusahkan orang. 

        Lebih lanjut bapak saya bercerita, jikalau dosen tersebut juga secara materi memang sudah dapat tergolong mampu. Meninggat saat itu masih sekitar tahun 1995-1997, masa yang tergolong cukup sulit untuk membangun pondasi ekonomi yang baik. Namun dosen bapak saya tersebut sudah tergolong mampu, karena si dosen sudah menggunakan kendaraan pribadi yang berupa mobil. Pada saat itu sudah termasuk barang mewah, karena tidak semua orang memiliki mobil (tidak seperti masa sekarang, yang hampir setiap keluarga sudah memiliki mobil). “Kalau tidak orang kaya, tahun segitu mana bisa punya mobil”, cerita bapak saya.