(Mata Kuliah Ekonomi
Politik Global 26 Maret 2014)
Oleh: Haryo Prasodjo (haryoprasodjo@ymail.com)
Menurut Jessop, Fordism ke Post-Fordism
didasari oleh beberapa faktor:
- Mulai bermunculannya teknologi baru.
- Proses intenasionalisasi.
- Perubahan paradigma.
Analisa Lipietz yang membagi dua sebab
dari perubahan Fordism ke Post-Fordism:
- Faktor internal, karena adanya ketidak percayaan lagi terhadap system Fordisme didalam negeri, mengingat ketidak mampuannya dalam mencegah dampak krisis.
- Faktor eksternal, karena semakin kuatnya interaksi internasional dan kompetisi diantara Negara-negara dunia yang juga membuat andil perubahan.
Kritik
Fordisme:
·
Adanya kesadaran paradigma masyarakat
kelas pekerja di AS bahwa krisis di AS lebih dilatarbelakangi intensifikasi
kelas buruh/pekerja terkait produksi, dimana jumlah pendapatan mereka tak
sebanding dengan produk yang mereka hasilkan.
·
Mikde Davis yang mendefinisikan bahwa
Demokrasi di AS adalah Demokrasi Kapitalisme dibawah ekspansi dan
pengawasan Demokrasi Borjuis dan Konsumsi Massal akan segera menemukan titik
akhirnya.
Post-Fordisme sendiri
telah melahirkan berbagai argumentasi dari berbagai pakar dengan berbagai macam
pendekatannya, berikut beberapa pendekatan itu:
- Kelompok Neo-Smithian: berpandangan bahwa dalam mekanisme produksi jangan lagi bergantung pada produksi masal tapi mulai menggunakan mekanisme Flexible Specialization
- Kelompok Neo-Schumpeterian: berdasarkan pendekatan long wave, yang menitik beratkan pada paradigma Techno-Economy, yang menjelaskan bahwa perputaran ekonomi dunia kedepannya berdasarkan perkembangan dan kuatnya arus tekonologi informasi dan komunikas.
- Kelompok Neo-Marxian (kelompok eko-pol Perancis): kelompok ini menitik beratkan perhatiannya pada struktur regulasi yang dibuat oleh system kapitalis dalam menghadapi tantangan krisis, instabilitas dan perubahan, dan kelompok ini tidak menekankan adanya revolusi kepada sistem kapitalis jika ada krisis, tapi menekankan perlu adanya reorganisasi dan rejuvenate kembali