“Aku bersyukur dilahirkan di Indonesia, dimana senyum masih menjadi karakter, budaya masih apik terjaga, dan optimisme masih menyulut semangat. Aku berharap, anak-anakku kelak harus lebih bangga dariku dalam memandang dan memperjuangkan Indonesianya. Jaya Selalu Negeriku Indonesia, Jayalah Selama-lamanya”

Tantangan Demokratisasi Kawasan Asia Tenggara


(Oleh: Haryo Prasodjo – 09260012)

Sebagian golongan berpendapat bahwa, hanya dengan menggunakan sistem yang demokratislah sebuah negara dapat mensejahterakan rakyatnya. Pendapat dari golongan ini menyatakan bahwa dalam sistem yang demokratis terdapat elemen-elemen yang belum ada pada sistem yang lainnya, kerena hanya dengan sistem inilah yang sejauh ini memberikan ruang untuk adanya koinsoslidasi ataupun melakukan chech and balance antara pemerintah dengan yang diperintah atau dalam hal ini rakyatnya.
Tidak hanya berhenti sampai di situ, yang membuat sistem ini dapat tumbuh subur dengan jangkauan yang luas adalah dan tidak lebih dikerenakan adanya nilai-nilai ataupn pilar dari demokrasi itu sendiri seperti kebebasan berpendapat (bersuara), diselenggarakannya  pemilihan umum (pemilu) yang memungkinkan untuk siapa saja dapat memilih calon yang akan diusungnya guna mengisi kursi pemerintahan, adanya kebebasan pers, adanya pembagian kekuasaan atau yang lebih kita kenal dengan trias politika yang mana berfu gsi sebagai kontrol sehingga memungkinkan bagi penguasa untuk tidak dapat menjadi seorang pemimpin yang diktator.
Meskipun tidak semua ahli ketatanegaraan setuju dengan demokrsi seperti Karl Marx dan Hegel yang lebih menilai demokrasi sebagai “panitia dari kaum borjuis”,[1] bahkan Perdana Mentri Inggris Winston Churchill, mengatakan, ”It has been said that democracy is the worst form of government except all the others that have been tried”,[2]  Demokrasi bukan sistem pemerintahan terbaik, tetapi belum ada sistem lain yang lebih baik daripadanya.meskipun deikian tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa seiring waktu yang berganti demokrasilah yang tampil sebagai pemenang, bahkan dalam bukunya “The End of History”, Francis Fukuyama mengatakan bahwa dunia telah mencapai akhir dari peradabannya, yaitu dengan meluasnya paham serta nilai akan demokrasi yang dianut oleh negara-negara di dunia.

Salah satunya adalah kawasan Asia Tenggara yang mana hampir seluruh negara yang ada di kawasan tersebut menganut sistem demokrasi ala barat, meskipun demikian bukan berarti proses demokratisasi tersebut dapat berjalan mulus dan sesuai dengan apa yang diharapkan, terdapat banyak hambatan-hambatan yang justru sifatnya adalah subtansial seperti adanya pembatasan kebebebasan pers, adanya peran negara yang kuat dan lemahnya peran rakyat dalam pemerintahan, serta masih adanya peran militer dalam kenegaraan seperti yang terjadi diMyanmar di mana kusi pemerintahannya telah lama berada ditangan militer. Pemilu bulan pada bulan lau merupakan salah satu bukti bahwa ada keinginan dari Myanmar untuk berubah, kemengangan Aung San Suu kyi menandakan sudah sedikit terbukanya gerbang demokrasi di Myanmar setelah berabad-abad lalu dikuasai oleh junta militer[3].
Kudeta yang dilakukan oleh junta militer ternyata tidak hanya terjadi diMyanmar, hal serupapun terjadi di Thailand, puncaknya adalah saat terjadi demonstrasi besar-besaran oleh kelompok yang mengatas namakan dirinya sebagai “kaos merah”. Pada tahun 2006 terjadi kudeta militer untuk menguligkan kekuasaan Thaksin Sinawatra yang mana setelah kejadian tersebut kondisi serta stabilitas politik di thailand mulai tergangu. Militer yang ada tidak percaya atas kepemimpinan sipil, hal ini dikarenakan militer melihat pemerintahan oleh sipil belum bisa mengendalikan stabilitas negara dikarenakan maraknya praktek korupsi dan juga terjualnya aset negara yang berupa saham The Shin Corp kepada Singapura dan ditambah penjualan saham perusahaan keluarga itupun dibebaskan dari pajak penjualan sehingga membawa keuntungan bagi keluarganya.[4] Sehingga hal tersebut membuat PM Abhisit Vejjajiva menggunakan kekerasan untuk memukul mundur aksi para demonstran.
Tidak hanya di kedua negara tersebut, aksi penahanan dan penindasan hak asasi manusia bagi pejuang demokrasi juga sering terjadi di Vietnam,  seperti yang dialami Nguyen Dan Que, 69 tahun salah seorang pejuang demokrasi dan penegak HAM di Vietnam. Bagi Vietnam apa yang telah dilakukan oleh Que dapat menganggu stabilitas dan administrasi masyarakat.[5] Vietnam sendiri merupakan salah satu negara yang masih memiliki corak komunisme hal ini tidaklah lain disebabkan oleh sejarah pembentukan kenegaraan yang panjang serta adanya bayang-bayang China[6].


Pendekatan Tiga Model Demokrasi
Jeff Hayness (2000) membagi pemberlakuan demokrasi ke dalam tiga model berdasarkan penerapannya. Ketiganya yaitu demokrasi formal, demokrasi permukaan (façade) dan demokrasi substantif. Ketiga model ini menggambarkan praktik demokrasi sesungguhnya yang berlangsung di negara manapun yang mempraktikkan demokrasi di atas bumi ini.[7]
1. Demokrasi formal ditandai dengan adanya kesempatan untuk memilih pemerintahannya dengan interval yang teratur dan ada aturan yang mengatur pemilu. Peran pemerintah adalah mengatur pemilu dengan memperhatikan proses hukumnya.
2. Demokrasi permukaan (façade) merupakan gejala yang umum di Dunia Ketiga. Tampak luarnya memang demokrasi, tetapi sama sekali tidak memiliki substansi demokrasi. Pemilu diadakan sekadar para os inglesses ver, artinya "supaya dilihat oleh orang Inggris". Hasilnya adalah demokrasi dengan intensitas rendah yang dalam banyak hal tidak jauh dari sekadar polesan pernis demokrasi yang melapisi struktur politik.
3. Demokrasi substantif menempati rangking paling tinggi dalam penerapan demokrasi. Demokrasi substantif memberi tempat kepada rakyat jelata, kaum miskin, perempuan, kaum muda, golongan minoritas keagamaan dan etnik, untuk dapat benar-benar menempatkan kepentingannya dalam agenda politik di suatu negara. Dengan kata lain, demokrasi substantif menjalankan dengan sungguh-sungguh agenda kerakyatan, bukan sekadar agenda demokrasi atau agenda politik partai semata.
Dalam melihat berbagai macam kasus yang terjadi dikawasan Asia Tenggara ini, khususnya dengan apa yang terjadi pada tiga negara tersebut, tidak urungnya demokrasi masih menduduki posisi ke-2 pada tiga model tersebut. Demokrasi hanya dijadikan wajah bagi beberapa negara agar lebih tampak mempesonabagi siapa saja yang memandangnya khususnya bagi negra-negara internasional seperti Amerika Srikat. Negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Myanmar menggunakan demokrasi sebagai kedok, namun apabila kita mengukutrnya dengan instrumen subtansi demokrasi dapat dikatakan bahwa masih adanya pilar-pilar penting yang belum ada dan harus ada dalam sistem serta pelaksanaan ketatanegaraan pada negara tersebut.
Pada dasarnya tidak ada negara yang benar-benar demokratis di dunia ini, bahkan negara sekaliber Amerika Serikat sekalipun bukanlah negara yang benar-benar demokratis, bahkan sebagai negara super power tersebut sering menggunakan standar gandanya untuk melancarakan kepantingan serta melakukan intervensi terhadap suatu negara yang cendrung justru menodai nilai-nilai HAM tersebut.
Dasar-dasar nilai demokrasi yang ditanamkan oleh barat sering kali bertentangan dan tidak menemokan kecocokan saat nilai tersebut diterapkan pada negara-negara selatan yang notabene merupakan negara dalam katagori dalam perekonomian yang sedang berkembang. Pemilu yang dilaksanakan hanya sekedar sebagia formalitas untuk mennglegtimasi posisi penguasa bahkan arti kata “kebebasan” itu sendiripun mengalami pendangkalan makna menjadi bebas sebebas-bebasnya, bahkan dalam hal ini terkadang peran negara menjadi lemah seperti apa yang dialai oleh Indonesia saat ini.[8]
Problematika seacam ini kemudian menyebabkan konflik sendiri pad amasyarakatnya baik yang pro maupun yang kontra, dimana negara-negara kawasan Asia Tenggara masih sangt kental sekali menjunjung tinggi adat serta nilai ketimuran, seperti kesopanan, kepatuhan, nilai moral agama, serta nilai-nilai dalam masyyarakatnya. Berbeda saat kita melihat dengan kacamata nilai demokrasi yang utuh, makan niali demokrasi akan melunturkan nilai-nilai lokal tersebut. Maka pada akhir tulisan ini sudah semestinya negara-negara di kawasan Asia Tenggara tidak hanya menjadi gerbong dari rangakaian kereta demokrasi, tapi harus lebih bisa bermain sebagai lokomotif sehingga tidak hanya mengedepankan nilai demokrasi ala barat yang selama ini banyak disanjung, namun juga memoerhatikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya adar menjadi negara bangsa yang memiliki identitas serta berdaulat penuh atas wilayah dan kekuasaannya, dan yang lebih ahrus kita tekankan adalah, demokrasi bukanlah sebuah obat mujarab yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.



Daftar Pustaka
Sorensen, Gorge. “Demokrasi dan Demokratisasi”. Pustaka Pelajar. Yogyakarta 2003.
http://www.centroone.com. kiprah-suu-kyi-bawa-demokrasi-di-myanmar diakses tanggal 24 Mei 2012.

http://www.politik.lipi.go.id, politik-internasional jalan-panjang-demokrasi-thailand diakses tanggal 24   Mei 2012.


http://sejarah.kompasiana.com vietnam-konsolidasi-demokrasi-1945-1975 diakses tanggal 24 Mei 2012.
http://www.averroes.or.id perkembangan-pemikiran-dan-praktik-demokrasi-dari-era-klasik-sampai-kontemporer.html diakses pada tanggal 24 Mei 2012


[1]Dalam  http://www.averroes.or.id perkembangan-pemikiran-dan-praktik-demokrasi-dari-era-klasik-sampai-kontemporer.html diakses pada tanggal 24 Mei 2012
[2] Dalam http://www.saidwhat.co.uk/articles/government.php diakses tanggal 24 Mei 2012.
[3] Dalam http://www.centroone.com. kiprah-suu-kyi-bawa-demokrasi-di-myanmar diakses tanggal 24 Mei 2012.
[4] Dalam http://www.politik.lipi.go.id, politik-internasional jalan-panjang-demokrasi-thailand diakses tanggal 24   Mei 2012.
[6] Dalam http://sejarah.kompasiana.com vietnam-konsolidasi-demokrasi-1945-1975 diakses tanggal 24 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar